Alzheimer (Demensia dan Amnesia)

Banyak orang yang khawatir menderita penyakti Alzheimer jika sering mengalami masalah memori. Pada dasarnya, kehilangan memori jangka pendek pada usia 60 atau 70-an tahun adalah normal, namun beberapa orang dengan masalah memori ringan bisa saja mengembangkan penyakit Alzheimer.

Alzheimer bukan penyakit menular, melainkan merupakan sejenis sindrom dengan apoptosis sel-sel otak pada saat yang hampir bersamaan, sehingga otak tampak mengerut dan mengecil. Alzheimer juga dikatakan sebagai penyakit yang sinonim dengan orang tua.

Alzaimer adalah Dementia progresif yang terjadi pada usia dewasa menengah atau lansia ditandai dengan menurunnya daya ingat jangka pendek, deteriorasi intelektul dan perilaku, dan lambat berpikir.

Gejala-gejala Alzaimer sendiri meliputi gejala yang ringan sampai berat.

Berikut tanda – tanda menurunya fungsional yang disebabkan oleh kelainan yang terjadi pada otak (Alzheimer) antara lain:

  1. Gangguan memori yang yang mempengaruhi keterampilan pekerjaan, seperti; lupa meletakkan kunci mobil, mengambil baki uang, lupa nomor telepon atau kardus obat yang biasa dimakan, lupa mencampurkan gula dalam minuman, garam dalam masakan atau cara-cara mengaduk air.
  2. Kesulitan melakukan tugas yang biasa dilakukan seperti tidak mampu melakukan perkara asas seperti menguruskan diri sendiri.
  3. Kesulitan bicara dan berbahasa
  4. Disorientasi waktu, tempat dan orang, seperti; keliru dengan keadaan sekitar rumah, tidak tahu membeli barang ke kedai, tidak mengenali rekan-rekan atau anggota keluarga terdekat.
  5. Kesulitan mengambil keputusan yang tepat
  6. Kesulitan berpikir abstrak, seperti; orang yang sakit juga mendengar suara atau bisikan halus dan melihat bayangan menakutkan.
  7. Salah meletakkan barang
  8. Perubahan mood dan perilaku, seperti; menjadi agresif, cepat marah dan kehilangan minat untuk berinteraksi atau hobi yang pernah diminatinya.
  9. Perubahan kepribadian, seperti; seperti menjerit, terpekik dan mengikut perawat ke mana saja walaupun ke WC.
  10. Hilangnya minat dan inisiatif

Karakteristik dementia pada Alzheimer

1. Predementia:
• Gangguan kognitif ringan -8 tahun sebelum diagnosis ditegakkan
• Defisit memori
• apatis

2. Demensia onset awal
• meningkatnya gangguan learning & memori
• Gangguan bahasa, menurunnya kosakata & kata, menurunnya kemampuan bahasa oral & tulisan
• Gangguan persepsi (agnosia)
• Gangguan gerakan (apraxia)
• Terlihat bodoh
• Kurang inisiasi untuk melakukan aktivitas

3. Dementia moderat
• Deteriorasi progresif
• Tidak mampu membaca & menulis
• Gangguan long-term memory
• Subtitusi penggunaan kata (parafasia)
• Misidentifikasi
• Labil
• Mudah marah
• Delusi
• Inkontinen system urinaria

4. Dementia tahap lanjut (advanced)
• Tidak dapat mengurus diri secara
• Kehilangan kemampuan verbal total
• Agresif
• Apatis ekstrim
• Deteriorasi massa otot & mobilitas
• Kehilangan kemampuan untuk makan

Berdasarkan stadium:
Stadium I (lama penyakit 1-3 tahun)
• Memori : defek daya ingat baru (leaning), gangguan recall ringan
• Kemampuan Visuospatial : disorientasi topografi, tidak mampu membentuk komplex
• Bahasa : sulit membentuk kata baru, anomia
• Personalitas : indiferens,kadang-kadang mudah marah
• Manifestasi psikiatri: sedih atau beberapa delusi
• Sistem motorik : normal
• EEG : normal
• CT/MRI : normal
• PET/SPECT : bilateral posterior hypometabolism/hyperfusion

Stadium II (lama penyakit 3-10 tahun)
• Memori : daya ingat baru (leaning) & gangguan recall berat
• Kemampuan Visuospatial: disorientasi spasial, poor contructions
• Bahasa : fluent aphasia
• kalkulasi : akalkulation
• Personality : indiferens & mudah marah
• Manifestasi psikiatri: delusi
• Sistem motorik: restlessness, pacing
• EEG : slow background rhythm
• CT/MRI : normal or ventricular and sulcal enlargeent
• PET/SPECT : bilateral parietal and frontal hypometabolism/hyperfusion

Stadium III (lama penyakit 8-12 tahun)
• Intelectual function : severely deteriorated
• Motor system : limb rigidity and flexion poeture
• Sphincter control : urinary and fecal
• EEG : diffusely slow
• CT/MRI : ventricular and sulcal enlargeent
• PET/SPECT : bilateral parietal and frontal hypometabolism/hyperfusion

 

Cara Mengetahui Diagnosis

Terdapat beberapa kriteria untukdiagnosa klinis penyakit alzheimer yaitu:
1. Kriteria diagnosis tersangka penyakit alzheimer terdiri dari:
• Demensia ditegakkan dengan pemeriksaan klinik dan pemeriksaan status mini mental atau beberapa pemeriksaan serupa, serta dikonfirmasikan dengan test neuropsikologik
• Didapatkan gangguan defisit fungsi kognisi >2
• Tidak ada gangguan tingkat kesadaran
• Awitan antara umur 40-90 tahun, atau sering >65 tahun
• Tidak ada kelainan sistematik atau penyakit otak lainnya
2. Diagnosis tersangka penyakit alzheimer ditunjang oleh:
• Perburukan progresif fungsi kognisi spesifik seperti berbahasa, ketrampilan motorik, dan persepsi
• ADL terganggu dan perubahan pola tingkah laku
• Adanya riwayat keluarga, khususnya kalau dikonfirmasikan dengan neuropatologi
• Pada gambaran EEG memberikan gambaran normal atau perubahan non-spesifik seperti peningkatan aktivitas gelombang lambat
• Pada pemeriksaan CT Scan didapatkan atropi serebri
3. Gambaran lain tersangka diagnosa penyakit alzheimer setelah
dikeluarkan penyebab demensia lainnya terdiri dari:
• Gejala yang berhubungan dengan depresi, insomnia, inkontinentia, delusi, halusinasi, emosi, kelainan seksual, berat badan menurun
• oKelainan neurologi lain pada beberapa pasien, khususnya penyakit padastadium lanjut dan termasuk tanda-tanda motorik seperti peningkatan tonus otot, mioklonus atau gangguan berjalan
• Terdapat bangkitan pada stadium lanjut
4. Gambaran diagnosa tersangka penyakit alzheimer yang tidak jelas
terdiri dari:
• Awitan mendadak
• Diketemukan gejala neurologik fokal seperti hemiparese, hipestesia, defisit lapang pandang dan gangguan koordinasi

• Terdapat bangkitan atau gangguan berjalan pada saat awitan
5. Diagnosa klinik kemungkinan penyakit alzheimer adalah:
• Sindroma demensia, tidak ada gejala neurologik lain, gejala psikiatri atau kelainan sistemik yang menyebabkan demensia
• Adanya kelainan sistemik sekunder atau kelainan otak yang menyebabkan demensia, defisit kognisi berat secara gradual progresif yang diidentifikasi tidak ada penyebab lainnya

6. Kriteria diagnosa pasti penyakit alzheimer adalah gabungan dari kriteria klinik tersangka penyakit alzheimer dab didapatkan gambaran histopatologi dari biopsi atau otopsi:
• autopsi tampak bagian otak mengalami atropi yang difus dan simetri,
• secara mikroskopik tampak bagian kortikal otak mengalami neuritis plaque dan degenerasi neurofibrillary

Pemeriksaan Penunjang
A. Neuropatologi
Diagnosa definitif tidak dapat ditegakkan tanpa adanya konfirmasi neuropatologi. Secara umum didapatkan:
• atropi yang bilateral, simetris lebih menonjol pada lobus temporoparietal, anterior frontal, sedangkan korteks oksipital, korteks motorik primer, sistem somatosensorik tetap utuh
• berat otaknya berkisar 1000 gr (850-1250gr).

Kelainan-kelainan neuropatologi pada penyakit alzheimer terdiri dari :

1. Neurofibrillary tangles (NFT)
Merupakan sitoplasma neuronal yang terbuat dari filamen-filamen abnormal yang berisi protein neurofilamen, ubiquine, epitoque. Densitas NFT berkolerasi dengan beratnya demensia.

2. Senile plaque (SP)
Merupakan struktur kompleks yang terjadi akibat degenerasi nerve ending yang berisi filamen-filamen abnormal, serat amiloid ektraseluler, astrosit, mikroglia. Amloid prekusor protein yang terdapat pada SP sangat berhubungan dengan kromosom 21. Senile plaque ini terutama terdapat pada neokorteks, amygdala, hipokampus, korteks piriformis, dan sedikit didapatkan pada korteks motorik primer, korteks somatosensorik, korteks visual, dan auditorik. Senile plaque ini juga terdapat pada jaringan perifer. densitas Senile plaque berhubungan dengan penurunan kolinergik.
Kedua gambaran histopatologi (NFT dan senile plaque) merupakan gambaran karakteristik untuk penderita penyakit alzheimer.

3.  Degenerasi neuron
Pada pemeriksaan mikroskopik perubahan dan kematian neuron pada penyakit alzheimer sangat selektif. Kematian neuron pada neokorteks terutama didapatkan pada neuron piramidal lobus temporal dan frontalis. Juga ditemukan pada hipokampus, amigdala, nukleus batang otak termasuk lokus serulues, raphe nukleus dan substanasia nigra. Kematian sel neuron kolinergik terutama pada nukleus basalis dari meynert, dan sel noradrenergik terutama pada lokus seruleus serta sel serotogenik pada nukleus raphe dorsalis, nukleus tegmentum dorsalis. Telah ditemukan faktor pertumbuhan saraf pada neuron kolinergik yang berdegenerasi pada lesi merupakan harapan dalam pengobatan penyakit alzheimer.

4. Perubahan vakuoler
Merupakan suatu neuronal sitoplasma yang berbentuk oval dan dapat menggeser nukleus. Jumlah vakuoler ini berhubungan secara bermakna dengan jumlah NFT dan SP , perubahan ini sering didapatkan pada korteks temporomedial, amygdala dan insula. Tidak pernah ditemukan pada korteks frontalis, parietal, oksipital, hipokampus, serebelum dan batang otak.

5. Lewy body
Merupakan bagian sitoplasma intraneuronal yang banyak terdapat pada enterhinal, gyrus cingulate, korteks insula, dan amygdala. Sejumlah kecil pada korteks frontalis, temporal, parietalis, oksipital. Lewy body kortikal ini sama dengan immunoreaktivitas yang terjadi pada lewy body batang otak pada gambaran histopatologi penyakit parkinson. Hansen et al menyatakan lewy body merupakan variant dari penyakit alzheimer.

B. Pemeriksaan Neuropsikologik
Penyakit alzheimer selalu menimbulkan gejala demensia.
• Fungsi pemeriksaan neuropsikologik ini untuk menentukan ada atau tidak adanya gangguan fungsi kognitif umum danmengetahui secara rinci pola defisit yang terjadi.
• Test psikologis ini juga bertujuan untuk menilai fungsi yang ditampilkan oleh beberapa bagian otak yang berbeda-beda seperti gangguan memori, kehilangan ekspresi, kalkulasi, perhatian dan pengertian berbahasa.
Evaluasi neuropsikologis yang sistematik mempunyai fungsi diagnostik yang penting karena:
1. Adanya defisit kognisi: berhubungan dgn demensia awal yang dapat diketahui bila terjadi perubahan ringan yang terjadi akibat penuaan yang normal.
2. Pemeriksaan neuropsikologik secara komprehensif : untuk membedakan kelainan kognitif pada global demensia dengan deficit selektif yang diakibatkan oleh disfungsi fokal, faktor metabolik, dan gangguan psikiatri
3. Mengidentifikasi gambaran kelainan neuropsikologik yang diakibatkan oleh demensia karena berbagai penyebab.

CT scan:
• menyingkirkan kemungkinan adanya penyebab demensia lainnya selain alzheimer seperti multiinfark dan tumor serebri. Atropi kortikal menyeluruh dan pembesaran ventrikel keduanya merupakan gambaran marker dominan yang sangat spesifik pada penyakit ini
• Penipisan substansia alba serebri dan pembesaran ventrikel berkorelasi dengan beratnya gejala klinik dan hasil pemeriksaan status mini mental
MRI:
• peningkatan intensitas pada daerah kortikal dan periventrikuler (Capping anterior horn pada ventrikel lateral). Capping ini merupakan predileksi untuk demensia awal. Selain didapatkan kelainan di kortikal, gambaran atropi juga terlihat pada daerah subkortikal seperti adanya atropi hipokampus, amigdala, serta pembesaran sisterna basalis dan fissura sylvii.
• MRI lebih sensitif untuk membedakan demensia dari penyakit alzheimer dengan penyebab lain, dengan memperhatikan ukuran (atropi) dari hipokampus.
4. EEG
Berguna untuk mengidentifikasi aktifitas bangkitan yang suklinis. Sedang pada penyakit alzheimer didapatkan perubahan gelombang lambat pada lobus frontalis yang non spesifik
5. PET (Positron Emission Tomography)
Pada penderita alzheimer, hasil PET ditemukan:
• penurunan aliran darah
• metabolisma O2
• dan glukosa didaerah serebral
• Up take I.123 sangat menurun pada regional parietal, hasil ini sangat berkorelasi dengan kelainan fungsi kognisi danselalu dan sesuai dengan hasil observasi penelitian neuropatologi
6. SPECT (Single Photon Emission Computed Tomography)
Aktivitas I. 123 terendah pada refio parieral penderita alzheimer. Kelainan ini berkolerasi dengan tingkat kerusakan fungsional dan defisit kogitif. Kedua pemeriksaan ini (SPECT dan PET) tidak digunakan secara rutin.
7. Laboratorium darah
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik pada penderita alzheimer.
Pemeriksaan laboratorium ini hanya untuk menyingkirkan penyebab penyakit demensia lainnya seperti pemeriksaan darah rutin, B12, Calsium, Posfor, BSE, fungsi renal dan hepar, tiroid, asam folat, serologi sifilis, skreening antibody yang dilakukan secara selektif.

Pengobatan

Pengobatan simptomatik:
1. Inhibitor kolinesterase
• Tujuan: Untuk mencegah penurunan kadar asetilkolin dapat digunakan anti kolinesterase yang bekerja secara sentral
• Contoh: fisostigmin, THA (tetrahydroaminoacridine), donepezil (Aricept), galantamin (Razadyne), & rivastigmin
• Pemberian obat ini dikatakan dapat memperbaiki memori dan apraksia selama pemberian berlangsung
• ESO: memperburuk penampilan intelektual pada orang normal dan penderita Alzheimer, mual & muntah, bradikardi, ↑ HCl, dan ↓ nafsu makan.

2. Thiamin
pada penderita alzheimer didapatkan penurunan thiamin pyrophosphatase dependent enzym yaitu 2 ketoglutarate (75%) dan transketolase (45%), hal ini disebabkan kerusakan neuronal pada nukleus basalis.
• contoh: thiamin hydrochlorida
• dosis 3 gr/hari selama 3 bulan peroral,
• tujuan: perbaikan bermakna terhadap fungsi kognisi dibandingkan placebo selama periode yang sama.

3. Nootropik
• Nootropik merupakan obat psikotropik.
• Tujuan: memperbaiki fungsi kognisi dan proses belajar. Tetapi pemberian 4000 mg pada penderita alzheimer tidak menunjukkan perbaikan klinis yang bermakna.
tapi mahal bokkkk

4. Klonidin
Gangguan fungsi intelektual pada penderita alzheimer dapat disebabkan kerusakan noradrenergik kortikal.
• Contoh: klonidin (catapres) yang merupakan noradrenergik alfa 2 reseptor agonis
• Dosis:maksimal 1,2 mg peroral selama 4 minggu
• Tujuan: kurang memuaskan untuk memperbaiki fungsi kognitif

5. Haloperiodol
Pada penderita alzheimer, sering kali terjadi:
• gangguan psikosis (delusi, halusinasi) dan tingkah laku: Pemberian oral Haloperiod 1-5 mg/hari selama 4 minggu akan memperbaiki gejala tersebut
• depresi : tricyclic anti depresant (amitryptiline 25-100 mg/hari)

6. Acetyl L-Carnitine (ALC)
Merupakan suatu subtrate endogen yang disintesa didalam miktokomdria dengan bantuan enzym ALC transferase.
• Tujuan: meningkatkan aktivitas asetil kolinesterase, kolin asetiltransferase.
• Dosis:1-2 gr/hari/peroral selama 1 tahun dalam pengobatan,
• Efek: memperbaiki atau menghambat progresifitas kerusakan fungsi kognitif.

Suportif
1. seakan hanya memberikan rasa puas pada penderita dankeluarga
2. Pemberian obat stimulan, vitamin B, C, dan E belum mempunyai efek yang menguntungkan.

Pencegahan
↓ resiko:
Sayur, roti, gandum, sereal, minyak zaitun, ikan, & anggur merah
Vitamin: B12, B3, C, & asam folat
Pengguanaan NSAID jangka panjang

↑ resiko:
Reiko yang berhubungan dengan kardiovaskular, hiperkolesterolmia, hipertensi, & diabetes

Selain farmakoterapi, ada beberapa terapi lain, seperti :
Dapat dilakukan oleh “care-giver”

1. Intervensi psikososial. Terapi ini dapat digunakan dalam masa ‘mild’ sampai ‘moderate’ dalam tahap demensia. Treatment meliputi konseling, psikoterapi, terapi orientasi, ‘behavioral reinforcement’, dan ‘cognitive rehabilitation training’.
Terdiri dari beberapa pendekatan:
• Perilaku
• emosi
• kongisi
• stimulus

2. Imunoterapi, yakni menyuntikkan vaksin toksin beta-amyloid untuk melatih sistem imun tubuh sehingga dapat menghancurkan beta-amyloid dan menghentikan timbulnya penyakit ini.

3. Terapi ‘pekerjaan dan gaya hidup’. Modifikasi dari lingkungan dan gaya hidup pasien Alzheimer dapat memperbaiki kemampuan fungsional dan meringankan pekerjaan pengasuh, seperti memberi label pada perangkat rumah tangga, mengamankan perangkat yang berbahaya untuk mencegah terjadinya luka karena aktivitas sehari-hari, mengajak pasien untuk berinteraksi sosial, dan stimulasi visual seperti memberi warna pada perangkat rumah tangga, yang juga dapat menambah nafsu makan.

4. Terapi alternatif, menggunakan kombinasi ramuan herbal dengan suplemen diet, misalnya vit.E.

h. Prognosis
Dari pemeriksaan klinis 42 penderita probable alzheimer menunjukkan bahwa nilai prognostik tergantung pada 3 faktor yaitu:
1. Derajat beratnya penyakit
2. Variabilitas gambaran klinis
3. Perbedaan individual seperti usia, keluarga demensia dan jenis kelamin
Ketiga faktor ini diuji secara statistik, ternyata faktor pertama yang paling mempengaruhi prognostik penderita alzheimer.

Pasien dengan penyakit Alzheimer:
• mempunyai angka harapan hidup rata-rata 4-10 tahun sesudah diagnosis
• dan biasanya meninggal dunia akibat infeksi sekunder.

Komplikasi
• Infeksi
• Malnutrisi
• Kematian

 

Nah,  berikut tips agar kita tidak cepat pikun :

1. Beri Makan Otak

Anda adalah yang anda makan. kalau banyak makan junk food, maka otak kita jadi sampah juga. Lemak dalam makanan berkadar lemak tinggi bisa berimbas buruk pada sinaps otak. Sinaps adalah bagian yang menghubungkan neuron otak dan penting untuk belajar dan mengingat. Untuk menyehatkan bagian ini, makan banyak-banyak ikan Salmon, buah Kiwi dan semua makanan yang mengandung asam lemak omega-3.

2. Lakukan Olahraga

Olahraga bisa meningkatkan daya ingat, berpikir lebih jernih dan mengurangi risiko penyakit kognitif. Sebab olahraga akan mengurangi tekanan pada tubuh, memompa energi lebih banyak ke otak. Aktivitas ini juga memicu pelepasan bahan kimia yang menguatkan neuron. Cukup setengah jam saja setiap hari, jangan lupa lakukan peregangan oto.

3. Olah Otak

Mengisi TTS, main games memori, ternyata juga olah otak yang mencegah kepikunan. Aktivitas ini menstimulasi otak sehingga otak kita terlatih untu mengingat-ingat selalu alias tidak malas berfikir. semua itu membuat sistem otak kita selalu siap bekerja kapan saja (tidak mogok).

4. Trik Memory

Agak mirip dengan yang diatas, kegiatan ini membiasakan kita mengingat-ingat dan mengontrol daya ingat. membuat prediksi juga bisa membantu proses daya ingat. Latihan ini berguna sebab kadang saat kita punya suatu ide, kita lupa data-data lain yang bisa mendukung ide tersebut.

5. Istirahatkan

Walau otak kita genius, kalau dipakai terus juga akan lelah. Maka beristirahat agar kelak bisa bekerja lebih baik lagi. Sebuah studi mengatakan, tidur 90 menit di siang hari bisa membantu kinerja otak

 

Bagaimana membedakan lupa normal dan lupa yang disebabkan oleh Alzheimer?

Dilansir dari Health.com, berikut beberapa hal yang terjadi pada kelupaan normal :

1. Lupa dengan beberapa bagian dari pengalaman

2. Lupa tempat memarkirkan mobil

3. Lupa dengan acara di masa lalu

4. Lupa dengan nama seseorang tapi dapat mengingatnya kemudian

5. Lupa dengan suatu objek, seperti kunci motor atau mobil

Sedangkan lupa yang disebabkan oleh penyakit Alzheimer adalah sebagai berikut :

1. Lupa dengan seluruh pengalaman yang pernah terjadi

2. Lupa dengan cara mengendarai mobil atau membaca jam

3. Lupa dengan acara-acara yang baru saja terjadi, misal lupa bila Anda baru saja selesai memasak

4. Lupa dengan seseorang padahal Anda sudah mengenalnya sebelumnya dan Anda benar-benar tidak dapat mengingatnya meski sudah diberi bantuan untuk mengingat

 

Penyakit Alzheimer juga menyebabkan perubahan dalam pemikiran, perilaku dan kepribadian. Pada awal penyakit ini, orang tersebut masih mampu bersikap tepat dalam situasi sosial dan orang lain percaya bahwa orang itu tidak sakit.

 

Untuk dapat lebih membedakan lupa normal dan lupa yang disebabkan oleh Alzheimer, berikut 10 tanda umum yang dialami penderita Alzheimer :

1. Lupa dengan informasi nama dan nomor telepon dan tidak mampu untuk mengingatnya lagi

2. Kesulitan melaksanakan tugas yang sebelumnya rutin Anda lakukan, misalnya memasak.

3. Mengalami masalah dengan bahasa, seperti lupa dengan kata-kata sederhana atau mengucapkan kata-kata yang tidak biasa.

4. Disorientasi tempat dan waktu, seperti lupa dimana Anda tinggal.

5. Penurunan penilaian, seperti tidak bisa membedakan cuaca dan memberi uang begitu saja kepada orang asing.

6. Mengalami masalah dengan pemikiran abstrak, seperti tidak bisa menyeimbangkan buku atau tidak mengerti dengan nominal angka uang.

7. Lupa menempatkan dan bagaimana menyimpan barang-barang, seperti meletakkan besi di dalam freezer atau jam tangan di dalam mangkuk gula.

8. Perubahan mood (suasana hati) dan perilaku, seperti mengalami marah dengan tiba-tiba kemudian tenang atau menangis tanpa alasan yang jelas.

9. Perubahan kepribadian, seperti menjadi sangat bingung, curiga, takut atau sangat bergantung dengan anggota keluarga.

10. Kehilangan inisiatif, seperti tidur sepanjang waktu, menonton televisi sepanjang hari atau tidak ingin melakukan kegiatan yang biasa dilaku.


Demensia dan Amnesia

Adapun fungsi dasar otak antara lain adalah melihat, merasa, mendengar, keseimbangan, bergerak, dan pengaturan fungsi organ tubuh. Fungsi luhur otak mencakup ingatan, intelektual kognitif, emosi, dan perilaku.

Penyebab lupa:

Penurunan daya ingat disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya adalah adanya gangguan organik di otak, tekanan psikologis dan gangguan lain (gula dan oksigen).

Kerusakan fungsi memori organik disebabkan antara lain karena adanya penyakit di otak akibat mengalami stroke, infeksi, tumor, dan degeneratif (penurunan kondisi) sehingga ada kerusakan di otak. Akibatnya, fungsi otak menjadi terganggu, terutama dalam hal ingatan. Umumnya yang pertama kali terganggu adalah ingatan jangka pendek.

 

Gangguan fungsi kognitif, misalnya demensia, bisa dikarenakan alzheimer yang dikenal sebagai demensia alzheimer. Penurunan fungsi itu bisa juga diakibatkan oleh gangguan pembuluh darah otak (demensia vaskular), di antaranya stroke, sumbatan kecil di pembuluh darah otak yang kemudian meluas sehingga banyak sel-sel otak yang mati.

Demensia

Demensia adalah gangguan fungsi kognitif menyeluruh otak yang ditandai antara lain dengan gangguan fungsi memori. Umumnya diawali dengan memori jangka pendek, lalu jangka menengah dan jangka panjang. Kondisi tersebut juga disertai oleh satu atau lebih gangguan fungsi kognitif lain yaitu kemampuan berbahasa, berhitung, bertindak secara berencana, dan pengenalan benda. Demensia bersifat progresif dan ingatan sulit dikembalikan.

 

Akibat Benturan:

Beda dengan demensia, amnesia paling banyak disebabkan oleh terjadinya benturan atau guncangan terhadap otak. Amnesia bersifat sementara dan selektif. Biasanya orang yang mengalami amnesia hanya lupa pada periode tertentu.

Penyakit hipertensi dan diabetes secara terus-menerus secara tidak langsung memengaruhi memori. Penyakit yang terutamanya dipicu oleh gaya hidup tidak sehat tersebut kemudian menjadi faktor risiko timbulnya gangguan lain seperti demensia.

Memori juga terkait dengan kondisi psikis. Ingatan berkaitan erat dengan emosi dan persepsi. Trauma kejiwaan yang sangat membekas akan menimbulkan represi terhadap ingatan akan peristiwa tersebut. Ingatan ditekan ke alam bawah sadar sebagai mekanisme pertahanan ego.

Amnesia

Amnesia, yang juga disebut sindrom amnestik (amnestic syndrome), adalah suatu kondisi yang melibatkan hilangnya ingatan perihal fakta, informasi, dan pengalaman pribadi.

Demensia bukanlah penyakit melainkan hilangnya fungsi mental, seperti kognisi, memori, dan kemampuan bahasa yang disebabkan oleh berbagai macam kondisi kesehatan termasuk usia.

Jenis

Amnesia yang disebabkan oleh kerusakan otak, seperti stroke, ensefalitis, dan tumor, disebut sebagai amnesia neurologis atau organik.

Sedangkan amnesia yang diakibatkan stres ekstrim atau trauma psikologis disebut amnesia psikogenik atau disosiatif.

Perbedaan Gejala-Gejala Demensia Alzheimer dengan Penyakit Memory Lainnya

– Demensia Alzheimer

1. Penyebab: lupa fisiologis (saraf otak)

2. Akibat: gangguan memori/ ingatan

3. Terjadinya: berlangsung bertahap dan bersifat progresif

4. Sifat penyakit: permanen

5. Kemungkinan untuk sembuh: belum dapat disembuhkan

– Amnesia

1. Penyebab: psikologis

2. Akibat: gangguan memori/ ingatan

3. Terjadinya: tiba-tiba, tidak bertahap, berlangsung secara drastis

4. Sifat penyakit: semi permanen

5. Kemungkinan untuk sembuh: dapat disembuhkan

– Delirium

1. Penyebab: psikologis

2. Akibat: gangguan kesadaran dan gangguan kognitif

3. Terjadinya: berlangsung secara short time

4. Sifat penyakit: fluktuatif

5. Kemungkinan untuk sembuh: dapat disembuhkan

 

Sumber :

http://nyatanyatafakta.blogspot.com

http://health.detik.com

http://yulianafransiska.wordpress.com

http://id.shvoong.com

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: