Cara Mengetahui Ular Berbisa Atau Tidak

Ular BerbisaSaat mendengar kata “ULAR” biasanya kita langsung ngeri. Apalagi saya sangat fobia terhadap ular, melihat gambarnya aja, saya merasa ngeri sekali. Saya melihat di tv aja, terkadang sampai terbawa mimpi. Apalagi kalo saya melihatnya secara langsung. Nah, gimana dengan Anda??

Ketakutan saya ini mungkin terjadi karena saya sering sekali bertemu dengannya. Langsung terbayang kan, gigitannya mengalirkan bisa yang mematikan.

Jumlah rata-rata kasus dan insiden kecelakaan mengenai  ular di dunia setiap tahun berkisar 1 hingga 2 juta, diantaranya berujung dengan kematian. Padahal kita sudah tahu ada yang berbisa dan ada yang tidak, tapi tetap susah membedakannya. Setiap melihat ular, reaksi praktisnya adalah kabur, ambil langkah seribu… Lalu pergi dengan berteriak-teriak sekencang-kencangnya, itu sih kalo bagi saya, hehehe..

Menurut para peneliti dan ilmuwan, Anda harus tahu bahwa ular berbisa dan tidak berbisa dapat dibedakan secara fisik. Tak hanya ciri fisik, bahkan banyak sisi yang dapat dimanfaatkan untuk melihat ular itu berbahaya atau tidak.

Berikut ini ada ciri-cirinya jika ular tersebut ternyata berbisa, agar kita lebih waspada :

Ular agresif tidak berbisa
Kebanyakan, ular yang agresif justru cenderung tidak berbisa. Mereka hanya sekedar menakut-nakuti atau sekadar bertahan saat merasa terusik. Itulah cara mereka untuk mengusir predator.

Lebih berhati-hatilah pada  ular yang tenang dan gerakannya lambat. Ular-ular jenis ini justru memiliki bisa tinggi. Contohnya seperti King Cobra, ular ini cenderung berjalan dengan pelan meskipun terusik. Jika benar-benar terusik, maka dia akan mematuk dan meninggalkan bisanya pada korban.

Tak perlu membelit
Jika ular berbisa, tidak perlu membelit untuk membunuh mangsanya. Sebab dengan satu gigitan saja, mangsa akan tergeletak tak berdaya bahkan mati. Sementara untuk ular yang tidak memiliki bisa cenderung membelit mangsanya agar mati.

Bentuk kepala
Bentuk kepala ular tidak berbisa biasanya lonjong seperti telur. Sementara untuk ular berbisa, mereka memiliki bentuk kepala segitiga. Namun yang perlu diingat adalah, tetap ada pengecualian. Contohnya ular kobra, ular ini tidak memiliki bentuk segitiga namun bisanya sangat mematikan.

Jenis gigitan

perbedaan gigitan berbisa dan tidak berbisa
 Apabila Anda digigit ular, coba lihat bagaimana bekas gigitan tersebut. Apabila meninggalkan bekas dua titik akibat taring ular, maka jelas itu adalah ular berbisa. Namun jika gigitan tersebut meninggalkan bekas luka berupa deretan gigi yang tersusun rapi (bekas gigitannya melengkung membentuk gigi), maka itu bukanlah ular berbisa.

 

Tidak langsung pergi
Ular berbisa memiliki kebiasaan untuk menunggu korban gigitannya mati di hadapannya. Sehingga setelah menggigit, sejenis ular kobra akan tetap diam di tempat. Berbeda dengan ular tanpa bisa atau berbisa rendah, mereka cenderung akan langsung pergi setelah menggigit apapun yang mengusiknya.

Ular Berbisa

(Poisonous)

Ular tidak berbisa

(Non-Poisonous)

Memiliki gigi taring pada bagian rahang atas Tidak memiliki taring
Kebanyakan memiliki warna terang dan mencolok Kebanyakan warna dan pola sederhana
Bermata lonjong, pupilnya elips dan tajam. Bermata dan berpupil bulat.
Memiliki pola sisik dalam satu baris pada ekornya Memiliki pola sisik dua baris pada ekornya
Memiliki lubang dekat nostril (Lubang hidung) Tidak memiliki lubang dekat nostril (lubang hidung)
Kepalanya cenderung berbentuk segitiga Kepalanya cenderung tidak berbentuk segitiga

 

Tapi ada beberapa pengecualian yang tidak sesuai dengan ketentuan yaitu :

–         Ular yang berbisa tinggi, tetapi kepalanya oval (bulat telur), agresif, keluar siang, malam, seperti King Kobra, Kobra Naja naja sputratix.

–         Berbisa tinggi, tetapi kepala oval, gerakan tenang, contohnya Ular weling, Ular welang & Ular picung/pudak seruni.

–         Tidak berbisa, keluar malam hari dan gerakan lamban, contoh: Semua jenis ular phyton dan ular boa & Ular Pelangi (Xenopeltis unicolor).

Akhirnya Ditemukan Cara Memastikan Gigitan Ular Berbisa atau Tidak

Penelitian yang dilakukan seorang ilmuwan Australia berhasil menemukan cara memastikan gigitan ular memancarkan racun/bisa (envenomation) atau tidak melalui metode tes darah sederhana. Temuan ini memberikan harapan penanganan kasus gigitan ular yang lebih baik dan dasar penciptaan perangkat atau kit pendeteksi bisa ular yang murah.

Penemuan ini akan memperbaiki secara dramatis penanganan kasus pasien gigitan ular di daerah pedesaan tropis, terutama di negara-negara berkembang dimana kasus gigitan ular masih menjadi isu kesehatan utama.

Cara kerja metode ini, belum lama diterbitkan dalam media Nature Scientific Reports, yang dipresentasikan pekan ini di Pertemuan Masyarakat Riset Kedokteran Australia di Sydney.

Peneliti senior dalam riset ini, Dr Geoffrey Isbister, dari Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Universitas Newcastle mengatakan antiracun atau antivenom untuk pasien gigitan ular sering kali terlambat diberikan sampai gejala-gejalanya keracunan bisa ular  muncul. Dan kondisi itu terkadang kadang sudah sangat terlambat untuk ditangani.

“Kita perlu mengidentifikasi gigitan ular memancarkan bisa atau tidak (envenomation) selekas mungkin setelah seseorang terkena gigitan,” katanya.

Isbister mengatakan saat ini gejala envenomation banyak didasarkan pada kondisi penampakan fisik korban, seperti pasien merasa kesakitan, padahal tidak semua gigitan ular yang mengandung bisa memberikan reaksi seperti itu. Sebaliknya sesaat setelah gejala kelumpuhan dan kerusakan otot muncul, maka kondisi tersebut sudah tidak bisa dikembalikan oleh antiracun ular.

“Banyak orang mengira antiracun itu benda ajaib, padahal dia tidak mampu menetralkan semua kasus keracunan bisa ular,”katanya.

“Antiracun perlu secepatnya disuntikan sebelum racun/bisa ular menyebar ke otot atau sebelum mencapai saraf dan membuat kerusakan,”

Kasus gigitan ular cukup luas, sampai-sampai WHO sekitar 4 tahun lalu memasukannya dalam daftar penyakit tropis.

Isbister mengatakan ada 1 -2 juta kasus gigitan ular yang mengeluarkan racun/bisa, dengan potensi tingkat kematian mencapai 100.000 orang di seluruh dunia.

Pengobatan gigitan ular saat ini sering kali terhambat oleh ketersediaan antiracun; laju reaksi yang tinggi untuk antiracun; dan kesulitan dalam mendiagnosis envenomation untuk memungkinkan pengobatan antiracun dini.

Isbister mengatakan pengembangan tes diagnostik murah untuk menentukan gigitan ular berbisa atau tidak yang dapat dilakukan di samping tempat tidur sangat penting dalam menangani masalah ini.

Alat deteksi Murah

Untuk studi terbaru ini Dr Isbister dan tim, termasuk Dr Margaret O’Leary di Rumah Sakit Newcastle Kalvari Mater dan Dr Kalana Maduwage dari Universitas Peradeniya – Sri Lanka, memfokuskan penelitian pada enzim umum yang terdapat dalam racun/bisa ular, yaitu fosfolipase A2 ( PLA2 ) .

Dengan menggunakan sampel dari pasien gigitan ular yang terkonfirmasi di Sri Lanka dan Australia, mereka memeriksa sampel itu untuk melihat apakah PLA2 dapat dideteksi dalam darah .

Sampel pra – antiracun juga turut dikumpulkan dari sampel gigitan berbisa yang dikumpulkan dari sejumlah ular berbisa yang digunakan dalam riset ini diantaranya, ular Russell Viper, hump-nosed pit viper, Kobra India, Indian krait and five red-bellied black snake.

Sampel-sampel ini kemudian dibandingkan dengan tingkat PLA2 dalam kelompok pasien  gigitan ular yang tidak mengandung bisa.

Isbister mengatakan kadar PLA2 meningkat pada semua orang yang telah digigit dan disuntik dengan racun/bisa ular.

Dia mengatakan dengan ditemukannya cara untuk mengkonfirmasi gigitan ular mengandung bisa atau tidak ini, maka hanya pasien yang membutuhkan antiracun saja yang akan menerimanya.

Hasil temuan ini juga dianggap akan sangat berguna di negara-negara  maju seperti Australia dimana antiracun tersedia di lebih dari 90% rumah sakit.

Dari ribuan kasus gigitan ular yang dilaporkan ke rumah sakit di Australia, hanya sekitar 10 % saja yang gigitannya mengandung racun bisa.

Isbister mengatakan temuan ini siap ditindaklanjuti oleh penelitian berikutnya yakni pengembangan pengujian perangkat/kit yang murah.

 

Sumber :

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: