Tangisan Anak Negeri “ Curahan Hati Untuk Sang Pemimpin”

indonesia tercinta   Dari segala aspek kehidupan menjadi warga Negara Indonesia, siapa pun Pemimpinnya dari tahun ke tahun kurang adanya perubahan yang signifikan untuk menjadikan hidup kami sebagai anak-anak generasi penerus bangsa menjadi lebih baik, lebih sejahtera, lebih adil, lebih terlindungi oleh Negara ini, bahkan kami sebagai anak bangsa yang sangat berbakti justru mendapatkan banyak sekali kesulitan. Padahal kami patuh, taat dan menjadikan pancasila dan UUD 1945 menjadi dasar panutan dan pedoman dalam hidup kami.

Suara kami, tanggung jawab kami sangat menentukan jalan masa depan bangsa ini untuk menjadikannya Negara maju dengan sumber daya manusia yang baik dan sehat. Menjadi Negara berkembang saat ini tapi kesejahteraan yang kami dapatkan justru di bawah standard kehidupan yang baik dan layak.

Nah, lihatlah dampak dari segala aspek berikut ini yang dapat saya rampung untuk anak-anak bangsa dan generasi sang penerus kemajuan negeri ini. Kini sungguh sangat memprihatinkan dan membuat hati kami ingin melakukan berbagai hal tapi apa daya tangan tak sampai untuk melakukannya, ada saja rintangan dan penghalang yang menghentikan langkah kami.

 

Pendidikan  

  

Untuk para Pemimpin yang katanya kompeten dan berwibawa, maka dengarkan suara kami ini…”Lebih mengutamakan lulusan sarjana seperti kami, kami ini mau jadi apa?? Lapangan pekerjaan saat ini sangat minim, sudah itu berbagai instansi / lembaga selalu menolak lamaran kami secara terang-terangan. Dengan berbagai alasan. Dengan segala persyaratan khusus jika kami melihat lowongan pekerjaan yang ada dimana-mana. Seperti : harus berpenampilan menarik (emang penampilan kami ini yang akan bekerja menghasilkan dan menentukan hasil kinerja kami nantinya??). Saya pikir, kami akan berpenampilan dengan layak di depan semua orang. Dan kami pun tahu batas dan kewajaran dalam berpakaian pula. Lalu sebagian bidang juga membutuhkan ukuran tinggi badan (emang kalau tubuh kami pendek, kami tidak bisa bekerja maksimal??). Jadi kami yang terlahir dengan tubuh yang mungil, kami dianggap tidak bisa dan layak bekerja dengan baik. Saya pikir hasil kinerja seseorang tidak berpengaruhi dan tidak akan terpengaruhi dengan hal-hal sepele dan itu bukan menjadi pokok penentuan seseorang agar mendapatkan pengecualian, tapi isi kepala ini yang menentukan, isi otak yang dapat berpikir dan bekerja dengan anggota tubuh yang sehat. Baru bisa dikatakan sesuai dengan potensi untuk mendapatkan pekerjaan, bukan??

Lalu, biaya pendidikan yang semakin hari semakin melambung tinggi dengan begitu kinerja para pengajar pun hanya berburu upah semata, tanpa melakukan tugasnya dengan baik. Biaya pendidikan yang semakin tinggi, menjadikan anak-anak bangsa ini jadi terlantar kemudian putus sekolah karena orang tua mereka tak mampu membiayai pendidikannya, jangankan sampai perguruan tinggi Sekolah Menengah Pertama pun sangat banyak yang putus, itu yang terjadi di kalangan warga Indonesia yang hidupnya menengah ke bawah, jangankan untuk biaya pendidikan, untuk membeli kebutuhan pokok pun tak mencukupi sehari-hari. Dengan kepadatan penduduk hingga kini menjadikan kami kesulitan mendapatkan apa yang seharusnya kami dapatkan untuk pendidikan. Pendidikan sejak lahir pun itu gratis untuk kita dari sang ibu, merawat kita pun tanpa pamrih. Setelah kita remaja sampai dewasa kita dituntut oleh Negara untuk mendapatkan pendidikan. Seperti isi dari UUD 1945 “Setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak….” Nah, lho gimana Negara menjamin memberikan kita pendidikan kalau orang tua tak mampu membiayai pendidikan kita. Dan seharusnya dan sudah selayaknya “Pendidikan Di Indonesia itu Harus Gratis Tanpa Pungutan Biaya Sepersen Pun.”

Meskipun ada juga warga miskin seperti kami ini, karena orang tua kami mati-matian mendorong kami dan membiayai pendidikan kami sampai ke jenjang yang paling tinggi. Dengan harapan orang tua akan layak menjadi layak ketika anak-anaknya lulus lalu mendapatkan pekerjaan untuk membiayai kembali hidup kepada orang tua kami. Tapi, apa daya setiap tahunnya bangsa ini menghasilkan ribuan lulusan-lulusan sarjana namun hanya akan kembali seperti tak berpendidikan lagi. Kami hanya layak sebagai sampah pengangguran, dan cemohan para orang tua kami yang sudah mati-matian membiayai pendidikan kami, tapi hati mereka terpaksa di lapangkan ketika melihat anaknya hanya berdiam diri di rumah hanya makan dan tidur yang bisa kami lakukan. Seperti perbandingan 100 : 50. Misalkan tahun 2014 lulusan sarjana seluruh Indonesia 50.000 orang terus lapangan pekerjaan yang tersedia hanya 10.000 saja. Otomatis yang 40.000_nya akan menjadi pengangguran, bukan?

Kami memang layak menjadi seperti itu, toh Negara kita ini para pemimpin kita serta para jajarannya hanya melihat ke atas terus, tanpa memikirkan nasib kami yang di bawah. Peluang untuk lowongan pekerjaan 10.000 itu, kami pun harus berjuang mati-matian memperebutkan posisi yang ditawarkan itu. Sekali kami melangkah kami hanya putus asa, walaupun kami berjuang melalui tenaga dan pikiran. Tapi, kami tetap gagal. Hanya orang-orang kalangan menengah ataslah yang layak dan pantas mendapatkannya namun dengan cara tak halal.

Patut saya mengatakannya seperti itu. Kenapa?? Karena yang berduit lah yang maju duluan, dengan sogokan-sogokan yang ada, campur tangan yang ada di dalam pihak-pihak terkait yang bermain tangan. Justru mereka-mereka yang gak pantas dan gak berpotensi justru itu yang bisa mendapatkan kesempatan karena memiliki segalanya untuk menyuap para instansi terkait. Lalu kami, yang berhati mulia, jujur dan dapat bertanggung jawab, justru harus membalikkan badan melihat mereka-mereka yang sangat serakah itu, serakah akan jabatan.

Lalu kami harus pasrah menerima kenyataan pahit, putus asa dan harus menjadikan orang tua kami terus berharap dan berharap agar kami bisa menghidupi kembali keluarga kami kelak.

Jangan hanya para pejabat yang hanya bisa membeli ijazah sarjana tanpa melalui bangku perkuliahan secara langsung dengan tujuan untuk mendapatkan persyaratan pengangkatan pangkat dan jabatan yang lebih tinggi, padahal mereka tidak bisa professional dalam bekerja. Padahal kami lebih berpotensi dan bisa bertanggung jawab meskipun kami hanya orang miskin namun hanya miskin harta, tapi hati kami kaya, tau mana yang baik dan mana yang buruk. Karena kami ini sudah melalui berbagai pendidikan, baik pendidikan dari orang tua sejak lahir maupun pendidikan formal.

Lalu generasi kami selanjutnya, orang tua kami lalu mengubah pikiran mereka seperti ini “Kamu tidak usah sekolah tinggi-tinggi karena kamu tidak akan mendapatkan pekerjaan menjadi pegawai atau pejabat tanpa uang sogokan. Kamu hanya menghabiskan uang orang tua saja.

 

Politik dan Pemerintahan

Pesta demokrasi telah dilaksanakan, untuk memilih pemimpin untuk mengabdikan tanah air tercinta ini. Calon Presiden dan wakil Presiden. Selamat yang sudah terpilih. Semoga menjadi yang paling terbaik dari yang terbaik. Setelah beberapa bulan yang lalu juga pelaksanaan pemilihan para wakil-wakil rakyat untuk menyampaikan segala keluh kesah seluruh warga Indonesia. Calon legislatif. Menjadi pesohor dan panutan dengan segala janji-janji yang lebih lantang diucapkan hanya dengan lisan. Pembuktianlah yang kami butuhkan, bukan hanya sekedar teori yang mengaung dimana-mana.

Kiranya kami ikut memilih atau memilih golput juga tidak akan mengubah nasib bangsa ini, kami tak tau karakter dan kepribadian para calon pemimpin kita, bagaimana kita akan memilih. Toh dimana-mana pemberitaan mereka saling mengadukan dombakan kejelekan-kejelekan mereka. Kalau orang mengatakan pilihlah sesuai hati nurani. Saya sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Kenapa? Karena kita tidak bisa hanya berteori saja, menjadi sok tahu yang mungkin akan terjadi tapi belum tentu terjadi. Ketika intuisi sudah menjadi panduan yang kita percaya, maka apapun yang perlu kita pilih dan kita putuskan, benar-benar dirasakan sepenuhnya pada momen tersebut ketika sedang terjadi secara nyata. Artinya tidak tahu siapa yang akan kita pilih. Seandainya kita benar-benar ada di hadapan beliau, barulah kita bisa merasakan, mendengarkan hati kita, dan memilih siapa yang paling tepat menjadi sosok pemimpin yang bersih dan bertanggung jawab.

Hanya 2 pasangan Capres dan Cawapres, namun kini menimbulkan pro dan kontra, kekacauan, perselisihan, perjudian untuk berselisih dan bersaing secara tidak sehat. Kedua pihak saling menjatuhkan sama lain. Sungguh ironis, memalukan dan sangat memprihatinkan. Bangsa ini penuh dengan serekahan dan menuntut adil tapi tak senonoh. Memilih tapi saling menjatuhkan. Kalah dari yang menang menuntut balas dendam, yang menang menjadi angkuh dan berusaha juga saling menjelekkan. Para pengikut dan pendukungnya pula saling serang perkataan dan tingkah laku yang sangat kurang beretika dan bermoral. Ingat Negara kita kaya dengan budaya dan tata krama yang baik. Namun tak ada lagi artinya.

Jika yang terpilih menjadi terhormat tentu memikul segala janji-janji, visi dan misi harus terlaksana sesuai pernyataannya. Namun hanya sebagian Indonesia yang bisa menikmatinya, ini sungguh tidak berlaku adil. Negara ini adalah Negara yang sangat luas, tentu berbagai upaya yang bisa dilakukan oleh para wakil-wakil rakyat udah menduduki jabatan dan berwenang tentu kalian sudah menentukan suara kami para anak-anak bangsa ini. Jangan hanya duduk diam tak melakukan apa-apa untuk bangsa, hanya menginginkan upah imbalan di balik meja kerja kalian.

 

Kesehatan

Saya sangat terkejut ketika melihat pemberitaan di media massa, seorang pasien terlantarkan. Seorang kakek sudah lama di rawat di rumah sakit, namun ada oknum tenaga medis yang sengaja membuang kakek tersebut di jalanan lalu meninggalkannya. Seorang pasien ibu hamil yang akan melahirkan, dikeluarkan dari rumah sakit, lalu ibu tersebut terpaksa melahirkan di halaman rumah sakit. Seorang pasien terkena kanker dan harus doperasi namun semua rumah sakit menolaknya. Kenapa semua itu bisa terjadi. Tentu hanya satu alasan adalah terhalang biaya rumah sakit yang mereka tak mampu untuk membayarnya. Saudara-saudara kita yang tertimpah musibah seperti itu, apakah kita akan menambahkan rasa sakitnya mereka hanya karena persoalan uang dan uang? Dimana hati nurani kita, dimana belas kasih kita kepada orang-orang tak berdaya itu? Seharusnya segenap tangan kita membantu meringankan penderitaan dan penyakit mereka, tapi justru pihak-pihak rumah sakit menolak dan membuang mereka seperti sampah. Peran dokter, perawat dan tenaga medis lainnya, sudah memiliki etika dalam menjalankan profesi mereka. Sudah tak ada jiwa-jiwa pengorbanan diantara mereka. Hanya berburu dolar (upah), tak ada uang tak akan pernah bekerja. Itulah prinsip hidup manusia jaman sekarang dibanding orang-orang terdahulu yang rela berjuang, berkorban tanpa pamrih. Saya tau, bekerja untuk menghidupi mereka juga dan keluarga mereka, tentu mereka harus bekerja secara profesional sesuai sumpah dan janji dalam menjalankan profesinya, agar kedua pihak tak ada yang dirugikan. Sudah seharusnya mereka diberi jaminan sosial dan kesehatan bagi kami yang memang kurang mampu, dimana kesehatan adalah poin utama dalam melakukan segala hal, demi untuk memajukan bangsa ini. Justru saya tidak heran, mengapa orang-orang mampu dalam finansial jika sakit mereka memilih lari ke luar negeri untuk berobat? Nah kejadian seperti itu kita bisa langsung tau, rumah sakit-rumah sakit di seluruh Indonesia yang terlalu banyak itu namun sebagian tak ada yang beroperasi dengan baik. Dibandingkan rumah sakit di luar negeri memang lebih terjamin dan lebih canggih. Itulah yang membuat mereka yakin untuk bisa sembuh. Disamping pelayanan, pengobatan dan keamanan lebih menjamin mereka. Mereka bekerja secara professional tanpa melewati kesalahan-kesalahan fatal yang mugkin bisa terjadi. Tidak seperti di Indonesia biayanya sangat mahal terkadang justru tambah sakit setelah berobat dan dirujuk lagi ke berbagai rumah sakit lainnya. Ini membuktikan bahwa mereka tidak beroperasi dengan baik. Sudah memiliki berbagai peralatan medis namun tidak digunakan sebagaimana mestinya. Terkadang terjadi malpraktek, seperti kejadian beberapa tahun yang lalu. Seorang ibu, yang dituntut rumah sakit karena pencemaran nama baik rumah sakit tersebut. Seharusnyalah rumah sakitlah yang dituntut karena terjadinya malpraktek yang dilakukan salah satu dokter pada saat ibu tersebut menjadi pasien rumah sakit itu. Dia berobat untuk sembuh tapi justru sakit yang telah diderita olehnya justru menjadi parah. Ini sebenarnya bukan pencemaran nama baik rumah sakit, tapi ungkapan rasa ketidakpuasan pasien, rasa tidak terima dan berusaha menyampaikan kritik agar para medis di rumah sakit tersebut melakukan pekerjaannya dengan baik.

Dan beberapa bulan yang lalu, terjadi demo dan mogok kerja oleh para dokter-dokter itu. Yang katanya mendukung salah satu dokter yang di tuntut pengadilan karena perbuatannya melakukan malpraktek. Nah, para dokter tau letak kesalahannya, tapi kenapa justru minta keringanan hukuman yang dijatuhkan kepadanya. Apa artinya dokter-dokter itu melakukan mogok kerja?? Lihat pasien-pasien yang diterlantarkan. Apa mereka harus mati sebelum waktunya, sebelum ditangani oleh dokter. Ini sungguh sangat egois, hanya mementingkan diri sendiri. Dengan meninggalkan pekerjaan yang seharusnya segera ditangani. Seandainya hanya sebuah barang yang harus diperbaiki, itu bisa ditunda dulu. Tidak seperti dengan manusia yang harus segera diobati dan ditangani sesegera mungkin, mereka harus kehilangan nyawa tanpa segera ditangani oleh dokter-dokter terkait. Ingat, 1 nyawa yang Anda selamatkan, itu akan sangat berharga bagi orang tersebut. Tidak ada yang akan menyelamatkan orang sakit tanpa seorang jasa dokter, dan lebihnya hanya kepada Tuhan kita serahkan kita mau sembuh atau tidak itu tergantung Rahasia Tuhan, yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Bekerjalah dengan hati nurani dan penuh keikhlasan maka semuanya bisa berjalan dengan lancar.

 

peta indonesia

Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial

Banyak juga organisasi-organisasi untuk pelayanan sosial yang bertujuan untuk membantu orang-orang yang kurang mampu, kurang sehat dan wadah untuk membantu orang-orang yang teraniaya baik fisik maupun mental seseorang.

Bahan pokok makanan semakin hari semakin mahal, namun kompensasi untuk warga miskin, harus gigit jari. Gizi buruk untuk anak-anak bangsa ini semakin meningkat, karena kekurangan gizi dan asupan makanan sehat. Jelas mereka tak bisa mendapatkan makanan seperti itu, toh bahan pokok makanan yang seharusnya dikonsumsi setiap hari sangat mahal. Mereka yang tinggal di daerah pemukiman kumuh dan penuh dengan polusi dan sampah. Menjadi kan mereka lebih gampang terserang penyakit. Pemerintah kita tak pernah menangani permasalahan seperti itu. Pemberian bantuan pun hanya setengah-setengah dan tidak merata ke seluruh pelosok tanah air. Anak-anak jalanan, pengemis dan pemulung menjadikan bangsa ini terlihat sangat menjijikan dan sangat tidak pantas mendapatkan Negara gelar apapun apalagi harus bersaing dengan Negara-negara lain. Pemerintah telah mengeluarkan undang-undang dan himbauan untuk seluruh warga Indonesia jangan pernah memberikan sesuatu kepada pengemis dimanapun. Nah, kenapa bukan pemerintah yang terjun langsung ke lapangan untuk memberikan arahan dan santunan lalu memberikan mereka lapangan pekerjaan. Tentu mereka tidak akan kembali menjadi pengemis jika hidup mereka sejahtera.

Lalu infrastruktur masih sangat jauh ketinggalan, jalan dan jembatan seharusnya prioritas utama. Ini terlihat di pelosok-pelosok desa yang membutuhkan perbaikan jalan agar sistem ekonomi bisa berjalan dengan lancar. Dengan tujuan lebih memudahkan jalur pengangkutan barang-barang dari desa ke kota, begitupun sebaliknya. Jangankan Jalan raya yang jarang masuk ke desa-desa terpencil, listrik pun tak ada. Jadi selama hidup mereka, hidup dalam kegelapan malam. Negara ini tidak akan menjadi Negara maju kalau infrastrukturnya saja sangat memprihatinkan.

Lalu pendidikan menjadi prioritas utama di segala aspek, namun apa daya ketika di pelosok desa tidak memiliki sekolah. Yang ada cuman Sekolah Dasar itupun kalau ada. Bagaimana dengan sekolah SMP dan SMA? Jadi anak-anak setelah lulus SD mereka melanjutkan sekolah lanjutan yang jaraknya sangat jauh dari rumahnya bisa ditempuh sampai berkilo-kilo meter. Bahkan bisa sampai 5-10 km hal itu pun hanya ditempuh dengan berjalan kaki pula. Ini fakta!! Perjalanan yang ditempuh pun melalui pendakian, sungai bahkan jembatan yang hampir roboh. Sungguh mencengangkan, anak-anak negeri kita ini harus menjalani kehidupan mereka untuk mendapatkan pendidikan harus lebih menderita. Pembangunan yang tidak merata menjadikan saudara-saudara kita mengalami banyak sekali rintangan dan hambatan dalam hidupnya. Itu karena perhatian pemerintah hanya bertuju pada daerah perkotaan karena dianggap sebagai lahan bisnis dan kelancaran bisnis mereka. Ingat dan lihat di desa-desa lah yang menghasilkan bahan pokok makanan, sandang dan papan. Tetapi kenapa bukan itu yang seharusnya digarap untuk menghasilkan segala lahan bisnis dan devisa Negara ini. Negara kita makmur dan penuh kekayaan alam namun tak pernah digali menjadi kekayaan negara. Kenapa itu terjadi? Karena pemerintah tidak pernah memandang penduduk desa dan terjun langsung ke pelosok-pelosok desa tersebut untuk memberikan jaminan kepada warganya agar lebih bisa menghasilkan dan memenuhi kebutuhan hidup mereka dari hasil pengolahan pertanian dan peternakan yang ada.

Tentang ekonomi kreatif ini juga lebih banyak memberi peluang sebagai generasi muda seperti kami. Kami hanya ingin diberi ruang khusus agar karya-karya kami dihargai oleh orang lain dan diberi jaminan oleh Negara. Anak-anak bangsa lebih banyak menghasilkan karya namun tak pernah dilirik oleh pemerintah. Hingga karya-karya mereka hanya disimpan sebagai pajangan semata, jika pun harus dipublikasikan. Orang lain akan dengan mudah melakukan pembajakan oleh orang-orang tak bertanggung jawab dan tidak menghargai karya orang lain. Yang paling banyak direalisasikan oleh Negara ini hanya lebih berlatar dunia music yang katanya mendunia. Namun masih banyak anak-anak negeri ini memiliki karya yang sangat membanggakan. Seperti dalam dunia Networking, seperti Designer, Web Master, Desain grafis, Fotografer, Penulis, Jurnalis, Robotika, Gamers, Pelukis, Penari. Lalu dunia wisata, seperti tempat-tempat atau kawasan wisata alam maupun museum peninggalan sejarah yang sangat bagus di seluruh pelosok tanah air yang sangat berpotensi itu namun pemerintah kurang memperdulikan dengan melakukan pemeliharaan, perawatan dan mempromosikan. Padahal semua itu sangat membanggakan negeri ini jika segala aspek tersebut terorganisasi dengan baik, hingga menjadi kekayaan dan menghasilkan devisa Negara.

Lalu dengan kesejahteraan sosial, ini menjadi perhatian pemerintah kita juga. Kesenjangan yang terjadi di masyarakat sangat meresahkan kita semua. Kalangan bawah sangat terhina jika mereka lebih banyak kekurangan lalu kita semena-mena melakukan tindakan tak senonoh bagi mereka. Bagi mereka yang memiliki harkat, martabat dan pangkat hargailah saudara-saudara kita yang berada di bawah kita. Karena Anda kaya dan memiliki segalanya lalu Anda akan menginjak-injak harga diri mereka. Seharus Anda berbagi, bukan mencaci maki mereka. Meskipun mereka tidak memiliki apa-apa tapi tekad dan hati nurani mereka tetap kuat.

Mereka-mereka yang mengidap penyakit berbahaya justru mereka dikucilkan, bukannya dibantu dan diberikan semangat hidup. Lalu mereka akan minder untuk bergaul dan bersosialisasi dengan orang lain. Mereka kurang mendapatkan perhatian dari dunia kesehatan karena tergolong kurang mampu, seperti yang sebelumnya saya bahas diatas.

Seharusnya setiap desa di data penduduknya secara langsung oleh oknum terkait, mengenai keluarga miskin lalu diberi kompensasi dan jaminan setiap bulannya dari pemerintah. Apalagi mereka yang sudah lanjut usia yang hanya tinggal sendiri sebatang kara. Kita tau kalau orang sudah lanjut usia berdiri dan jalan pun tak mampu lagi apalagi harus bekerja sendirian. Lalu mereka mendapatkan penghasilan dari mana untuk membiayai hidup mereka? Ini sangat banyak di daerah pedesaan, ada yang ditinggal jauh dengan keluarga lain atau bahkan yang tak memiliki keluarga sama sekali. Saya, sangat mengharapkan pemerintah memberikan tanggungan kepada para lansia ini, yang sangat membutuhkan uluran tangan kita.

 

 

Hukum

Hukum di Indonesia masih jauh tertinggal dibanding dengan Negara – Negara lain di dunia. Sistem hukum sangat tidak berjalan dengan apa yang dicantumkan oleh undang – undang. Dalam hukum pidana dan perdata memang berkaitan cukup erat dan sesuai apa yang dilakukan oleh para penegak hukum, namun tak berjalan sesuai harapan kami. Terkadang ada campur tangan oleh pihak – pihak terkait di dalamnya. Sehingga hukuman yang harus dijalani terbilang sangat singkat padahal sangat sesuai hukuman dengan tindakan yang telah diperbuat. Lihat saja para koruptor di dunia politik saat ini, yang ketahuan lalu didakwa namun tak seimbang hukuman yang dijatuhkan kepadanya. Misalnya menghabiskan uang Negara sebanyak 1 M, namun hukuman yang dijatuhkan maksimal 5 – 7 tahun penjara. Di saat dijatukan hukuman ternyata hanya 2 tahun saja. Sungguh ironis!! Seperti kasus seorang pencuri hanya untuk makan, di dakwa 1 tahun penjara sebanding dengan seorang pejabat yang korup Rp. 600 juta, juga di dakwa 1 tahun saja. Nah, dimana sisi keadilan, sistem hukum kita ini? Pencuri hak milik Negara tersebut hanya diabaikan bahkan di santuni sekalipun oleh pihak – pihak tertentu. Bayangkan saja, biaya Negara sebanyak 1 M itu, sangat berharga untuk mengoperasikan dana keperluan Negara dan masyakat Indonesia pada umumnya. Kita kehilangan dana sebanyak itu dan itu terbilang sangat tidak sedikit bila dipergunakan dengan semestinya. Pejabat – pejabat yang di upah sangat tinggi dan cukup untuk biaya hidup mereka, tapi tetap hanya mengejar kemewahan dan kepuasaan. Memiliki rumah mewah dan kendaraan banyak, namun harta haram yang digunakan. Dosa mereka akan dibawa sampai matipun. Bahkan kemewahan itu tiba – tiba lenyap seketika. Ingat, benda dari hasil perbuatan haram tak akan pernah kekal bersamamu.

Kembali lagi pada hukum yang diberlakukan kepada orang miskin dengan orang kaya itu, sangat jauh perbedaannya. Bila Orang kaya di penjara akan sangat dilayani lalu hukuman yang dijatuhkan terlalu singkat. Lalu tak sebanding dengan perbuatannya. Sedangkan orang miskin dijatuhi hukuman itu sangat menyedihkan dikucilkan lalu tak diberi pelayanan baik seperti orang kaya, lalu hukuman yang dijatuhkan sangat lama, namun tak sebanding dengan apa yang telah diperbuatnya. Saya, jadi ingat kisah ada seorang nenek miskin yang hanya mencuri singkong karena kelaparan, lalu pemiliknya marah lalu melaporkannya. Hingga nenek tersebut dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Bandingkan orang miskin yang mencuri singkong yang mungkin hanya bisa di nilai dengan Rp. 20.000 saja, lalu kita menjatuhkan hukuman seperti itu. Sedangkan koruptor dengan nilai 1 Milyar hanya 2 tahun penjara saja. Dimana letak kesalahan para penegak hukum kita di Indonesia ini?? Yah, tentu kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin yang sangat terlalu jauh perbedaannya. Orang kaya di nilai lebih berharga dari segalanya namun tak berperasaan dan tak memiliki hati. Beginilah intinya hukum di Indonesia ini adalah orang bersalah lebih dibela karena lebih memiliki banyak uang untuk menutupi kejahatannya, lalu orang tak bersalah tak ada yang memihaknya karena buat apa dilakukan pembelaan jikalau tak ada uang sebagai jaminan. Kebenaran memang sangat sulit ditegakkan, kebenaran memang sangat sulit kita dapatkan. Karena dengan sadar dan sengaja orang-orang akan berlomba – lomba mencari kebenaran untuk menutupi kesalahannya.

 

Realisme Agama

Saya heran kenapa semakin banyak saja aliran-aliran sesat yang muncul dipermukaan. Meng-ataskan namakan bagian dari agama mayoritas, seperti ISLAM. Muncul dengan mengakui dirinya sebagai Nabi-lah, atau apalah itu. Melakukan ritual-ritual meng-ataskan namakan agama pula. Mengapa pandangan mereka bisa berubah dalam sekejap mata. Nah, kasus-kasus yang banyak terjadi pula. Saya sebagai sesama Muslim, sungguh sangat prihatin terhadap anak-anak generasi kita ini, baik dalam dunia pendidikan formal maupun dalam dunia keagamaan. Yang sungguh realisasi keagamaan di dalamnya sungguh sangat kental. Tapi, kenapa ada seperti gurunya atau guru ngajinya tegah berbuat dosa (maaf = memperkosa anak muridnya sendiri). Lah, di manakah akidah yang sudah di tanamkan kepada murid-muridnya itu. Sesungguhnya, mereka memberikan ilmu yang sangat bermanfaat, tapi justru memberikan contoh buruk seumur hidup bagi anak-anak kita.

Lalu, dalam kasus “Car Free Day”, Dugaan aksi kristenisasi terselubung, yang mencoba meracuni akidah bagi saudara-saudara kita semuslim, mereka mencoba menggunakan teknik secara halus, agar tak mudah diketahui, para pelaku melakukan dengan anggapan aktivitas sosial dengan tema kebangsaan sebagai alasan utama, mereka memberikan bingkisan-bingkisan yang berupa symbol keagamaan mereka, bunga, brosur, atau bingkisan makanan kecil sebagai ungkapan untuk menarik perhatian. Mereka lalu mengincar anak-anak, remaja hingga lanjut usia. Menurut pemberitaan secara media massa, ini kurang paham juga, apakah sebenarnya benar yang dilakukan mereka, atau hanya sebatas memprovokasi para antisipan bagi kinerja pemerintahan yang baru. Tapi, kasus tersebut patut di waspadai juga, jangan sampai terjadi pada diri kita. Mengajak lalu membuat diri kita, larut dalam kepercayaan dan keyakinan mereka. Tentu dengan Iman yang kuat dan akhlak yang harus dipermantap, jangan mudah terpengaruhi dengan ajakan berbagai organisasi yang tidak jelas asal usulnya. Penyiaran agama tidak dibenarkan terhadap orang yang telah memeluk agama lain. Ini sangat bertentangan dengan hukum. Dengan cara mengajak dengan menggunakan bujukan dengan atau tanpa pemberian barang, uang, pakaian, makanan atau minuman, pengobatan, obat-obatan dan bentuk-bentuk apapun lainnya agar orang atau kelompok orang yang telah memeluk/menganut agama yang lain berpindah dan memeluk/ agama yang disiarkan tersebut. Menyebarkan pamphlet, majalah, bulletin, buku-buku dan bentuk-bentuk barang penerbitan cetakan lainnya kepada orang atau kelompok orang yang telah memeluk/menganut agama yang lain. Melakukan kunjungan dan rumah ke rumah umat yang telah memeluk/menganut agama yang lain. Aturan Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 1 tahun 1979, bab III, tentang tata cara pelaksanaan penyiaran Agama pasal 3 dan 4.

 

 

Remaja dan Narkoba

Pemerintah tak akan pernah tau dengan segala aktivitas warganya, melihat dan memilah-milah segala kegiatan anak-anak remaja kita, yang bisa sangat berdampak buruk bagi masa depan mereka. Anak-anak yang putus sekolah, mereka hanya bisa nongkrong di tempat mangkal mereka. Bergaul dengan dengan teman-teman yang bisa menjerumuskan mereka ke ajaran sesat. Kebanyakan remaja dan pemuda-pemuda yang pada awal hanya berpesta kecil-kecilan, kemudian pesta-pesta besar, nyabu bersama, minuman alcohol bersama sampai pesta narkoba. Nah, dimana letak kesalahan para remaja kita yang mudah terjerumus ke dalamnya. Tentu dengan sindikat coba-coba lalu kemudian ketagihan. Lalu mereka keluar dari lingkarnya mencari sindikat-sindikat Bandar narkoba yang terselubung dan tersembunyi. Bahkan kini mulai merambah ke pelosok desa, bukan hanya di perkotaan saja. Mengintari kaum remaja yang yang putus sekolah dan tidak kegiatan positif yang mereka bisa lakukan. Ini lah yang harus kita gali sejauh mungkin, dimana kah mereka bisa mendapatkan jenis barang narkoba tersebut. Ya, tentu pemerintah harus mengambil tindakan tegas bagi sindikat penyebar bandarnya sampai ke akar-akarnya. Tentu pemasaran jelas tersembunyi dari jarak yang cukup jauh, lalu bagaimana mereka bisa lolos dari setiap pemeriksaan yang ada di setiap pintu biro perjalanan. Ini lah kurangnya, pengamanan yang sangat ketat bagi aparat kepolisian yang harus mencari dan melibatkan para anggota-anggotanya ke seluruh pelosok tanah air. Bahkan Bandar besar kita bisa mendapatkan di daerah pedesaan yang tentunya mereka lebih aman dari pemantauan penyelidik. Mereka lebih mudah menyembunyikan barang tersebut lalu para pelakunya lebih susah di kenali. Maka dari itu, perlunya pertahanan ketat bagi kepolisian. Lalu masyarakat pada umumnya, seharusnya melaporkan sesegera mungkin, apabila ada yang melihat dan mengetahui pengguna dan pengedar yang berkeliaran dan meresahkan masyarakat. Kenapa justru harus menyembunyikan perilaku mereka, khususnya para orang tua yang takut anak-anaknya ditangkap. Ingat, lebih baik kita melaporkannya daripada membiarkan mereka menjadi rusak akibat mengkonsumsi narkoba. Tidak ada kan orang tua yang mau anaknya menjadi korban narkoba tersebut? Lebih baik bertindak sebelum terlambat menjadi lebih korban-korban selanjutnya.

Kemudian tidak ada tindak lanjut bagi warung-warung kecil di daerah pedesaan yang bebas menjual minuman keras berkadar alkohol tinggi. Kok, bisa lolos begitu saja, disaat pemeriksaan dalam setiap pemasaran kepada konsumen. Ini akan sangat mudah di jumpai di tempat-tempat wisata, berhamburan botol-botol minuman keras yang sudah pecah-pecah. Berarti remaja, pemuda, anak sekolah sudah berani mengkonsumsi barang minuman keras tersebut, ketika mereka nongkrong di tempat-tempat tersembunyi. Karena kurangnya pengamanan yang di daerah-daerah pedesaan. Lalu warung yang tidak memiliki ijin penjualan, ini wajib di kenakan sanksi berat karena dapat merusak generasi anak-anak penerus bangsa ini.

 

Teknologi Informasi

Seperti kasus-kasus cyber crime di berbagai media sosial yang dengan mudahnya mereka melakukan penghinaan dan pencemaran nama baik. Inilah jika orang-orang berinteraksi di dunia internet, yang tak bertanggung jawab dengan menyalahgunakan kecanggihan teknologi saat ini. Maka pintar-pintarnya kita mengendalikan dalam mengekspresikan diri kita dalam memposting tulisan di setiap jejaring sosial baik menghina, menyebar fitnah, dan sebagainya bisa terancam penjara. Maka hukum harus ditegakkan seadil-adilnya. Berani berbuat berani bertanggung jawab. Seperti pepatah “mulutmu harimau mu!!” maka lisan dan pikiran di pelihara dengan baik sebelum mengeluarkannya.

Sama halnya dengan sindikat penjualan traviking lewat jejaring sosial dengan begitu mudahnya melakukan aksinya, hanya dengan sedikit tawaran-tawaran menarik agar menjadi mudah mendapatkan mangsa. Ini sangat memprihatinkan, khususnya bagi perempuan-perempuan muda mencari peluang bisnis mendapatkan modal, namun hanya dengan seuntai iming-iming uang sebagai modus pelaku. Penjualan manusia merambah ke dunia internet dengan mudahnya. Karena pelaku lebih mudah memalsukan identitasnya, jadi tidak mudah diketahui segala aktivitas yang mereka lakukan. Perlunya, melakukan filter dan pemblokiran, jika ada yang mencurigakan dari setiap akun yang melakukan berbagai transaksi yang ada. Ini perlunya, setiap pemakai memakai IP Address dengan GPS, untuk memudahkan mengetahui lokasi mereka yang melakukan setiap kejahatan di internet lalu ke dunia luar.  

 

Dan masih banyak lagi segelintir masalah dan problematika yang terjadi di negeri ini, yang tak akan pernah habis bila kita bahas satu-persatu. Mungkin hanya itu sajalah, yang dapatkan saya sampaikan kepada siapa pun yang melihat dan membaca tulisan ini, khususnya bagi para pemimpin dan jajaran wakil rakyat agar kiranya bisa direalisasikan dan dengan tujuan dapat kita sama-sama memajukan negeri ini menjadi Negara maju, berkembang, aman, sejahtera dan bebas dari segala kejahatan. Mohon maaf jika ada kata-kata yang dapat menyinggung bagi perorangan atau kelompok tertentu. Ini hanya sekedar curahan hati kami sebagai motivasi bagi semua kalangan di negeri ini. Marilah kita berjuang membangun bangsa ini menjadi lebih baik lagi… (^_^)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: